Mesin CPB

mesin yang mengambil alih fungsi jantung dan paru selama operasi berlangsung

SpBTKV

spesialis bedah toraks, kardio dan vaskular

SpBTKV

spesialisasi menangani kelainan-kelainan organ di rongga toraks (dada)

operasi yang membuka bagian dalam dari jantung

untuk kasus-kasus penggantian atau perbaikan katup jantung,

dan perbaikan atau penutupan defek pada sekat jantung

Saturday, January 5, 2013

PROSEDUR UMUM OPERASI

oleh: dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Prosedur operasi pada penyakit jantung secara garis besar sama tetapi akan memiliki teknik yang berbeda-beda pada bagian inti operasinya, tergantung dari kelainan yang terjadi.

Sebagian besar operasi akan menggunakan mesin jantung paru dalam prosedurnya, tetapi ada juga teknik yang tidak menggunakan mesin jantung paru tersebut misalnya pada Off Pump CABG, dimana jantung akan terus berdenyut selama operasi berlangsung.

Langkah-langkah operasi jantung yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Dokter Anestesi akan melakukan pembiusan umum.
  2. Dokter Bedah akan memulai sayatan di garis tengah dada, mulai dari kulit hingga membuka tulang dada. Pada operasi BPAK, sebelumnya Dokter bedah akan mengambil pembuluh darah yang akan dipasang di jantung, yaitu pembuluh vena safena magna di kaki atau arteri radialis di lengan.
  3. Kemudian rongga dada akan dilebarkan dengan menggunakan retraktor.
  4. Apabila mesin jantung paru digunakan, jantung akan dihubungkan dengan mesin jantung paru dan zat kardioplegik dimasukkan. Zat kardioplegik membuat jantung berhenti berdenyut sementara dan mesin jantung paru mengambil alih fungsi kedua organ vital itu.
  5. Operasi dilakukan sesuai dengan diagnosa penyakit.
  6. Jantung dibuat berdenyut kembali sehingga mesin jantung paru dapat disapih.
  7. Bila kerja jantung dan paru sudah kembali stabil, dinding dada ditutup dan tulang dada disambung menggunakan kawat khusus.

Lihat juga:

PROSEDUR UMUM OPERASI - BPAK

oleh: dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Sebelumnya silahkan pelajari Prosedur Umum Operasi.

Bagian ini menerangkan Prosedur Umum Operasi nomor 5: Operasi dilakukan sesuai dengan diagnosa penyakit khusus untuk Operasi Pada Penyakit Jantung Koroner.
Pada Penyakit Jantung Koroner, pangkal pembuluh darah baru akan disambungkan ke aorta (pembuluh  arah utama yang keluar dari jantung), sedangkan ujungnya disambungkan ke bagian arteri koroner sesudah sumbatan.

Lihat juga:

PROSEDUR UMUM OPERASI - BKJ

oleh: dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Sebelumnya silahkan pelajari Prosedur Umum Operasi.

Bagian ini menerangkan Prosedur Umum Operasi nomor 5: Operasi dilakukan sesuai dengan diagnosa penyakit khusus untuk Operasi Pada Penyakit Katup Jantung.


Pada Penyakit Katup Jantung, dibuat sayatan pada jantung untuk mencapai jantung dan Dokter bedah akan melakukan upaya semaksimal mungkin untuk memperbaiki katup. Dan setelah selesai, sayatan ditutup.

Lihat juga:

RISIKO DAN KOMPLIKASI

oleh: dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Risiko dan komplikasi yang terjadi pada penyakit jantung pada umumnya juga hampir serupa, tetapi ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi yang tergantung dari jenis operasi yang dilakukan

Pada Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK), angka kematian adalah sekitar 1-2% dan risiko kematian dan komplikasi meningkat pada keadaan-keadaan berikut:
  1. Usia lebih dari 70 tahun
  2. Fungsi jantung yang buruk
  3. Penyumbatan arteri batang utama kiri
  4. Penyakit paru kronik
  5. Gangguan fungsi ginjal
Operasi jantung merupakan sebuah operasi yang besar sehingga terdapat beberapa komplikasi yang walaupun jarang terjadi, tetapi tetap harus diketahui. Komplikasi ini dibagi menjadi dua macam, yaitu komplikasi ringan dan komplikasi berat.

Komplikasi Ringan

  1. Mual dan muntah
  2. Perdarahan ringan atau memar
  3. Infeksi ringan
  4. Tidak sembuhnya luka operasi dengan tanda: munculnya warna kemerahan, bengkak, nyeri dan keluar cairan
  5. Pembentukan parut yang abnormal atau nyeri
  6. Reaksi alergi terhadap bahan lateks, plester atau perban
  7. Nyeri pada dinding dada
  8. Mudah kehabisan napas dan mudah lelah
  9. Penurunan daya ingat dan daya piker, kehilangan ingatan jangka pendek, kesulitan konsentrasi dan membaca, serta kaburnya penglihatan
  10. Gangguan siklus tidur
  11. Pada BPAK, dapat terjadi komplikasi rasa baal sisi kiri dada akibat pengambilan arteri donor.

Komplikasi Berat

  1. Perdarahan berat/ tamponade jantung sehingga pasien harus dibawa kembali ke ruang operasi
  2. Serangan jantung saat maupun sesudah operasi atau gagal jantug. Komplikasi ini ditangani dengan pemasangan Intra Aortic Balloon Pump (IABP)
  3. Gangguan irama jantung, yang mencakup aritmia atrial, aritmia ventrikel, dan komplikasi pacu jantung
  4. Gangguan selaput jantung, yang mencakup sindrom paska perikardiotomi, efusi pericardial, dan perikarditis konstriktif
  5. Endokarditis bacterial
  6. Infeksi serius pada dada, tulang dada, darah, tungkai, atau lengan
  7. Gangguan saluran pernapasan, yang mencakup aspirasi, emboli paru, gangguan dindng dada, komplikasi luka pada sternum, gangguan jalan napas, dan paru kolaps
  8. Gangguan saluran pencernaan, yang mencakup gangguan lambung dan usus, gangguan hati, gangguan pankreas, gangguan limpa, dan gangguan kantung dan saluran empedu
  9. Gangguan ginjal sehingga harus mejalani cuci darah
  10. Gangguan sel-sel darah, yang terdiri atas hemolisis trombositopenia dan trombosis terinduksi heparin, kelainan hematologic aplastik, dan perubahan imunologik
  11. Gangguan sistem saraf, yang mencakup kejang, status vegetatif, refleks primitif, gangguan saraf tepi, penurunan kesadaran, hingga koma, stroke
  12. Gangguan penglihatan, yang terdiri atas emboli retina, infark retina, dan gangguan lapangan pandang
  13. Gangguan di pembuluh balik kaki akibat bekuan darah.
  14. Gangguan kejiwaan mencakup depresi dan psikotik
  15. Reaksi alergi terhadap pengobatan
  16. Penyebaran penyakit melalui transfusi darah
  17. Kematian.

Lihat juga:


  1. Prosedur Umum Operasi

Tuesday, December 25, 2012

KELAINAN PEMBULUH DARAH BESAR (AORTA)

oleh: dr. Antonius Sarwono Sandi Agus dan dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Kelainan yang terjadi di pembuluh darah besar (aorta) diidentifikasi sebagai aneurisma aorta.

Aneurisma aorta thorakalis dapat melibatkan satu atau lebih segmen aorta (akar aorta, aorta ascenden, arkus aorta, atau aorta descenden) dan diklasifikasikan sesuai gambar di bawah ini.
Anatomi Aorta Thorakalis
Enam puluh persen (60%) dari aneurisma aorta torakalis melibatkan akar aorta dan / atau aorta ascenden, 40% melibatkan aorta descenden, 10% melibatkan arkus aorta, dan 10% melibatkan aorta thoracoabdomina (dengan melibatkan > 1 segmen). 

PENYEBAB

Penyebab, perjalanan penyakit, dan pengobatan aneurisma torakalis berbeda untuk masing-masing segmen.

Aneurisma aorta ascending paling sering muncul diakibatkan karena degenerasi kistik medial, yang muncul secara histologis sebagai sel otot halus yang putus dan serat elastis yang mengalami degenerasi. Degenerasi medial ini menyebabkan melemahnya dinding aorta yang menghasilkan dilatasi dari aorta dan membentuk aneurisma. Ketika aneurisma tersebut melibatkan akar aorta, yang secara anatomis sering disebut sebagai annuloaortic ectasia. Degenerasi cystic medial ini terjadi biasanya sampai batas tertentu sesuai proses penuaan, namun proses ini dipercepat dengan adanya penyakit hipertensi.

Lihat juga:

  1. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Trauma
  2. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Diseksi Aorta
  3. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Aterosklerosis
  4. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Sindrom Marfan

KELAINAN PEMBULUH DARAH BESAR (AORTA) - TRAUMA

oleh: dr. Antonius Sarwono Sandi Agus dan dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Cedera trauma nonpenetrating pada aorta biasanya terjadi sebagai hasil dari cedera deselerasi.

Paling sering, trauma tersebut merupakan hasil dari transeksi parsial atau komplit dari aorta descenden di lokasi yang berdekatan dengan arteri subklavia kiri. Mayoritas dari pasien dengan transeksi aorta meninggal dalam waktu satu jam, beberapa pasien lain dapat menjalani perbaikan aorta apabila samapi di rumah sakit sesegera mungkin. 

Namun, 1% sampai 2% dari pasien tersebut, dengan traumatis aorta transeksi tidak terdiagnosis pada awalnya, dan dari kondisi pasien tersebut dapat terus berkembang menjadi pseudoaneurysms kronis di daerah tersebut. 

Aneurisma jenis ini berbeda, jenis ini biasanya saccular (berbeda dari bentuk fusiform yang biasanya terjadi), relative berbeda, dan letaknya distal dari arteri subklavia kiri. Seiring waktu kelainan ini cenderung untuk berkalsifikasi.

Lihat juga:

  1. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta)
  2. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Diseksi Aorta
  3. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Aterosklerosis
  4. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Sindrom Marfan

KELAINAN PEMBULUH DARAH BESAR (AORTA) - DISEKSI AORTA

oleh: dr. Antonius Sarwono Sandi Agus dan dr. Dudy A. Hanafy,SpBTKV

Diseksi aorta kronis cenderung membesar dari waktu ke waktu.

Dinding aorta yang terkena, melemah pada awalnya (yang mengarah ke diseksi), dan setelah pembedahan, lumen palsu di dinding luar menjadi makin lemah karena yang bagian pertengahan dalam lumen (flap intimal) telah robek. 

Akibatnya, pasien dengan diseksi aorta kronis beresiko tinggi untuk terbentuknya aneurisma dan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan imaging.

Lihat juga:

  1. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta)
  2. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Trauma
  3. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Aterosklerosis
  4. Kelainan Pembuluh Darah Besar (Aorta) - Sindrom Marfan